Tanpa mengurangi rasa hormat.
Kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i serta kerabat sekalian untuk menghadiri acara pernikahan kami :
Putra Bungsu dari Bapak Sumadi Addafa
& Ibu Mudawamah
&
Putri Sulung dari Bapak Samsudin
& Ibu Sumiyati
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian pasangan dari jenis kalian sendiri, supaya cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
Q.S. Ar-Rūm ayat 21
Love Story
Halo semua, kata penyedia undangan digital kami ini, ada bagian pada undangan ini yang memuat tentang love story, atau perjalanan cinta si mempelai. Hmmm, bagi kami yang kurang suka untuk menceritakan kisah pribadi kepada orang lain, bagian ini merupakan salah satu hal yang paling menantang untuk mengemasnya kedalam sebuah tulisan. Mungkin akan hal-hal umum saja yang akan kami tuliskan nantinya, dan jika kamu lagi senggang, luangkan waktumu untuk membacanya ya. Karena akan ada selipan Do’a atas keinginan-keinginan kami nantinya, yang semoga bisa ikut kalian Aminkan.
Sebuah Awal
Perjalanan panjang sampai kami bertemu tak hanya sekedar pertemuan semata, melainkan tentang perjalanan dua hati yang memilih untuk saling menetap dan menjaga. Tentang bagaimana takdir bekerja di antara ribuan kemungkinan dan membuktikan bahwasanya rasa cinta selalu menemukan jalannya untuk pulang. Seolah hidup sengaja menemukan waktu yang tepat, bukan untuk menunda-nunda, melainkan untuk memastikan bahwa ketika kami bertemu, kami benar-benar telah siap akan ketersalingan.
Awal kali kami baru benar-benar saling komunikasi ialah di awal tahun ini, 1 Januari 2026. Namun perjumpaan pertama kami sebenarnya jauh dari itu, yakni sekitaran tahun awal di dekade ke-3 dari abad ke-21. Di saat Dia sedang duduk di gazebo selatan supiturang-13 menunggu kerabatnya, untuk mengantarkannya ke tempat ia melanjutkan pendidikan tinggi. Sedangkan saat itu Aku duduk sambil melihatnya dengan memicingkan mata (karena aku rabun jauh) yang hasilnya tetap tak jelas rupanya, dari sebuah kedai yang baru dibangun. Dan kami meyakini bahwa perjumpaan sekilas tanpa sengaja itu sudah digariskan sebagai takdir dari Yang Atas untuk bertemu di kemudian hari, meskipun ketika itu kami tidak saling sapa.
Semesta Punya Cara
Okei kembali lagi, perjumpaan sekilas kami di tahun 2021 ternyata sudah ditakdirkan menjadi garis takdir jodoh dari Yang di Atas. Setelah kami mengobrol via pesan singkat selama sebulan, di akhir pekan pada awal bulan Februari, kami sepakat untuk saling bertemu di kaki gunung lawu tepatnya di sebuah kedai milik BumDes itulah kami melakukan brain storming, dan dari beberapa hari kemudianlah kami memantapkan diri untuk kejenjang selanjutnya.
Dan mungkin, inilah makna sebenarnya dari waktu yang tepat, bukan saat semuanya sempurna, melainkan saat dua insan memilih untuk saling melengkapi ketidaksempurnaan. Saat dua hati sepakat untuk tidak lagi mencari, karena telah menemukan. Kini, bukan lagi soal bagaimana kami bertemu, tetapi bagaimana kami saling menjaga. Karena cinta yang datang di waktu yang tepat, adalah cinta yang tidak hanya ingin dimiliki, tetapi juga saling diperjuangkan.
Selamaya dimulai Hari Ini
Di dunia yang luas ini kami percaya bahwa tidak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan. Bukan karena bertemu berjodoh, tapi karena berjodoh kami dipertemukan. Takdir mempertemukan dua hati pada waktu yang tepat dengan cara yang sederhana namun bermakna. Ketika kami putuskan untuk saling menetap untuk jenjang serius, bulan maret di akhir pekan juga di saat pertengahan bulan puasa, kami memutuskan saling mengunjungi rumah orang tua, dengan tujuan untuk mengenalkan diri ke keluarga kami masing-masing. Oya dari masa pertemuan pertama sampai dengan masa menjelang lamaran, terhitung 4 kali kami wira-wiri dari Nganjuk ke Ngawi pun sebaliknya naik bus Sugeng Rahayu, sebuah PO bus yang dulunya bernama Sumber Kencono. Sederhana namun bermakna, sebuah doa sebagai kita kedepannya akan selalu dalam momen seperti ini meskipun sederhana namun sarat akan makna. Kemudian di bulan Aprillah kami melaksanakan lamaran. Dan hasilnya di bulan Juni yang InsyaAllah janji suci ini kan terucap. Kenapa ndak bulan Mei, silakan tanya ke mempelai jika kalian bisa & berkenan hadir di acara kami nanti, hehe. Kami tidak memaksa kehadirannya kawan-kawan, namun jika senggang, silakan hadir. Kalaupun lagi tidak senggang, cukup Do’a kan terbaik saja untuk kami, dan kita semua.
Okei tak terasa sudah sampai pada paragraf ke-7. Kami sengaja ingin mengakhiri di paragraf ini, karena 7 dalam bahasa jawa disebut pitu, yang kami maknai sebagai usaha agar kami nantinya selalu dibersamai dengan pituduh, pitulungan dan pitu-pitu kebaikan lainnya dari Sang Haq. Kami akhiri dengan keinginan kami lainnya, yang mana ada pada satu baris lirik dari lagu yang menjadi musik latar pada undangan ini, yakni “aku mencintaimu dengan sederhana”. Walau kata kawan M, mencintai dengan sederhana adalah mencintai yang paling tidak sederhana, sesuatu yang mungkin mustahil, paling sulit. Namun menurut kami, “sulit bukan berarti tidak bisa”.
Merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami, apabila Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan hadir dan memberikan doa restu. Atas kehadiran dan doa restunya, kami mengucapkan terima kasih.