Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i serta kerabat sekalian untuk menghadiri acara pernikahan kami :
Putra Keenam dari Bapak Slamet
& Bunirah (Alm.)
Putri Ketiga dari Bapak Aliakbar
& Ibu Armah
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”
Awal Cerita
Kami berkenalan saat acara pendakian dalam peringatan Sumpah Pemuda pada tahun 2022 di Kabupaten Bengkayang, tepatnya di Bukit Jamur. Saat itu, langit masih malu-malu membuka hari. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, seolah menyambut langkah-langkah kami yang penuh semangat.
Aku ingat pertama kali melihatmu—berdiri di antara kerumunan peserta, mengenakan jaket hitam dengan tas carrier yang tampak lebih besar dari tubuhmu sendiri. Kau tersenyum pada siapa saja yang lewat, termasuk padaku, yang saat itu hanya membalas dengan anggukan canggung.
Perjalanan dimulai dengan langkah-langkah ringan, diiringi tawa dan obrolan singkat antar peserta. Namun medan Bukit Jamur tak semudah yang terlihat dari bawah. Tanjakan mulai curam, napas mulai berat, dan satu per satu peserta mulai terdiam, fokus pada langkah masing-masing.
Di situlah kita benar-benar mulai berbicara.
“Kamu sering naik gunung?” tanyamu sambil menyodorkan sebotol air ketika melihatku berhenti sejenak.
Aku menggeleng, sedikit terengah. “Baru kedua kali. Kelihatan ya masih amatir?”
Kau tertawa kecil. “Nggak juga. Tapi kalau capek, jangan dipaksa. Nikmati aja jalannya.”
Sejak saat itu, kita berjalan berdampingan. Kau sering bercerita—tentang gunung-gunung yang pernah kau daki, tentang malam di tenda yang penuh bintang, dan tentang alasanmu selalu kembali ke alam: mencari tenang, katanya.
Aku lebih banyak mendengar. Entah kenapa, suaramu terasa nyaman. Bahkan di tengah lelah, obrolan itu seperti memberi energi baru.
Saat kami sampai di puncak, matahari baru saja muncul, perlahan mengusir kabut yang sejak tadi menyelimuti. Hamparan pemandangan terbuka luas—hijau perbukitan, langit jingga, dan angin yang berhembus lembut.
Kita berdiri di sana, berdampingan, tanpa banyak kata.
“Kamu tahu,” katamu pelan, “kadang kita nggak perlu jauh-jauh cari momen bahagia. Cukup berhenti sebentar, lihat sekitar, dan… ditemani orang yang tepat.”
Aku menoleh. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar menatapmu tanpa rasa canggung.
Dan di saat itulah, tanpa aku sadari, perjalanan yang awalnya hanya tentang mendaki gunung… berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Perjalanan kita baru saja dimulai.
Tempat : KUA Kecamatan Tebas
Pukul : 14.00-17.00 WIB
Tempat : Kediaman Mempelai Wanita.
Dusun Rimbun, RT 008, RW 004, Desa Serindang,
Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas